Kegiatan


Paham Radikal Berkembang Pesat di Masyarakat, Jangan Diskreditkan Islam dan Ponpes

Menurutnya, selama ini Islam dan pondok pesantren diskreditkan sebagai tempat berkembangnya paham radikalisme dan terorisme. Padahal pendapat KH Syamsuni narasi itu salah besar.
“Paham Radikalisme itu bukan hanya pada umat Islam tapi juga di semua agama,” katanya.
Ia mengakui fakta yang melakukan teror itu adalah orang Islam, namun harus ada pemetaan oleh BNPT dan FKPT mengenai hal ini. Jangan sampai narasi yang disampaikan oleh negara asing bahwa Islam itu agama radikal dan isu khilafah adalah menyesatkan.
“Negara adidaya menghendaki Islam jangan bangkit,” ungkapnya.
Pelaku yang terpapar radikalisme harus jelas diungkap, sebab ujarnya, majelis ulama secara tegas menyebutkan bahwa agama Islam itu moderat bukan Islam Radikal.
Dijelaskannya, paham radikalisme itu tidak hanya bertentangan dengan agama Islam tetapi juga dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga perlu digarisbawahi bahwa bibit radikal sudah berkembang di masyarakat karena pemahaman yang salah memaknai jihad.
Maksudnya paham radikal adalah menyalahkan dan mengkafirkan ritual orang Islam dan tidak menerima perbedaan yakni dengan menyebutkan ritual selalu bid’ah yang berkembang di masyarakat dan media sosial.
Sehingga ia menyarankan ada titik prioritas dalam penanganan paham radikalisme terutama mempersempit ruang gerak mereka dan memberikan pemahaman yang benar ke masyarakat.
Pada hari yang sama FKPT Kalsel juga silaturahmi dengan Pimpinan Pondok Pesantren Ibnul Amin dan Yayasan Muhajirin Pemangkih, KH Muchtar HS.
Disebutkannya Ponpes ini mempunyai santri sekitar 1.900 orang dan berpikir dinamis, berakhlakul karimah dan berakidah ahlu sunnah wal jamaah.
KH Muchtar menyambut baik silaturahmi dari FKPT yang menyampaikan sosialisasi soal paham radikalisme dan terorisme. “Saya mendoakan agar tugas FKPT bisa mengurangi paham radikalisme,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua FKPT Kalsel, Aliansyah Mahadi menyebutkan silaturahmi ini terkait aksi terorisme penyerangan Polsek Daha Selatan pada 1 Juni lalu oleh Abdurahman dengan membangun sinergisitas ke ulama, tokoh masyarakat dan pimpinan pondok pesantren.
Diharapkan para ulama dan guru agama menyampaikan sosialisasi mengenai paham radikalisme ke santri.(rilis/klikkalsel.com)