Kegiatan


BNPT Libatkan Pelajar Cegah Radikalisme dan Terorisme, Melalui Lomba Video dan Diskusi Film

Pelibatan pelajar tersebut dikemas dalam kegiatan Lomba Video Pendek dan Diskusi Film “Kita Indonesia” di Ballroom Hotel Dafam di Banjarbaru, Rabu (19/8/2020).
Menurut Ketua FKPT Kalsel, Drs Aliansyah Mahadi M.AP didampingi Ketua Pelaksana Kegiatan Bidang Pemuda dan Pendidikan FKPT Kalsel, Hafiz Benruman, bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada para pemuda untuk menyikapi perbedaan sebagai kekayaan bangsa.
Kemudian memberikan bekal kepada pemuda dalam hal pelajar untuk melawan budaya gerakan radikalisme berupa lomba video pendek yang diunggah ke Youtube.
Selanjutnya ujar Didit nama panggilan Ketua FKPT Kalsel ini, menyampaikan wacana dan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya kearifan lokal masing-masing dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Selain itu, memberikan bekal kepada para siswa dan pemuda mengenai nasionalisme yang ingin dicapai oleh pendiri bangsa. Terakhir yang tidak kalah penting yakni memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan karakter siswa dan pemuda yang mencintai tanah air dan bangsanya.
Kegiatan yang digelar di masa pendemi Covid-19 ini juga mematuhi protokol kesehatan dengan membatasi jumlah peserta yang direkomendasikan oleh Gugus Tugas Covid-19 Provinasi Kalsel.
Ditambahkan Hafiz, peserta kegiatan sebanyak 80 orang siswa SMA, MAN dan sederajat wilayah Kota Banjarbaru dan Martapura.
Diharapkan kegiatan ini untuk membangun nasionalisme, karakter dan intelektualitas para pemuda. “Seyogya semua elemen bangsa harus bersatu padu dan bergerak bersama dalam visi menjaga masa depan pluralitas serta integriras bangsa.
Dijelaskan berkembangnya paham radikal sungguh memprihatinkan, terutama melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram dan lain-lain.”Medsos lebih efektif dalam menyampaikan paham radikalisme dan terorisme,” ujarnya.
Sementara itu dalam sambutan Kepala BNPT RI yang diwakili Kasubdid Pencegahan Kolonel TNI Roedy Widodo meminta pelajar agar berhati-hati berkembangnya paham radikal melalui media sosial.
Untuk itu perlu bersama-sama memerangi paham yang jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), karena kejahatan terorisme tidak terkait dengan agama.
“Para pelaku terorisme hanya menggunakan isu agama untuk menyampaikan tujuan mereka,” tegasnya. (rils)