Kegiatan


BNPT: Tidak Semua yang Radikal adalah Teroris

“Kalau saya analogikan teroris itu seperti sarjana. Untuk jadi sarjana harus sekolah berjenjang dari SD sampai kuliah, tapi belum tentu kita akan jadi sarjana. Itu namanya proses, kalau di terorisme proses radikalisasi,” kata Nurwakhid saat menjadi pemateri di kegiatan dialog Internalisasi Nilai-nilai Agama dan Budaya di Sekolah untuk menumbuhkan Moderasi Beragama di Sukabumi, Rabu (14/10/2020).

Pada kegiatan yang diinisiasi oleh BNPT dan FKPT Jawa Barat itu, Nurwakhid mengatakan, terorisme merupakan fenomena di hilir dari proses di hulu berupa radikalisasi yang di antaranya membuahkan sikap intoleran.

Dalam paparannya mantan Kabagbanops Densus 88 Antiteror Mabes Polri itu juga menegaskan, potensi radikalisme tidak hanya dimonopoli oleh satu agama atau golongan saja. Ia mencontohkan, pelaku pembakaran masjid di Tolikara, Papua, teridentifikasi berafiliasi pada kelompok radikal Khatolik. Pun demikian pelaku penindasan ke etnis Rohingya yang tercatat sebagai bagian dari kelompok radikal agama Budha.

“Semua itu biasanya karena perasaan hegemoni mayoritas di masyarakat. Makanya tak heran pelaku terorisme di Indonesia paling banyak dilakukan umat Islam,” tegas Nurwakhid.

Untuk mengatasi terorisme, masih kata Nurwakhid, pemerintah menitikberatkan pada pencegahan sebagai ujung tombak. Terbitnya UU No.5 tahun 2018 diakuinya semakin meningkatkan keleluasaan langkah pencegahan terorisme. “Dulu pencegahan hanya jadi pemadam kebakaran. Bisa bertindak jika ada kejadian. Sekarang sebelum kejaidan bisa dicegah,” tandasnya.

Kepada guru mata pelajaran agama yang menjadi peserta kegiatan, Nurwakhid mendorong keikutsertaan dalam upaya pencegahan terorisme. Menurutnya, menjadi tugas semua elemen masyarakat terlibat dalam penanggulangan terorisme di Indonesia.