Kegiatan


Penanggulangan Terorisme Di Wilayah Timur Indonesia: Belajar Dari Poso

Jakarta, FKPT Center -  BNPT kembali menggelar diskusi virtual bertajuk 'Melawan 2 Virus Mematikan: Covid 19 & Radikalisme', Selasa (30/6/2020). Terdapat satu kesimpulan menarik dari jalannya diskusi, yaitu belajar dari Poso untuk penanggulangan terorisme di Indonesia.

Diskusi kali ini menjadikan pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di wilayah tengah dan timur Indonesia sebagai peserta. Sementara hadir sebagai pemateri adalah Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen Hendri Paruhuman Lubis, Direktur Pencegahan BNPT, Irjen Hamli, serta Ketua FKPT NTB Lalu Muhammad Syafi'i, dan Ketua FKPT Sulawesi Tengah, Mohd. Nor Sangadji.

Dalam paparannya Mohd. Nor Sangadji mengungkapkan, Poso sebenarnya merupakan daerah dengan potensi kearifan lokal tinggi, dan tidak memiliki sejarah pertikaian tajam sebelumnya. Konflik di Poso awalnya hanya dipicu pertikaian antarpendukung kandidat pesta demokrasi.

"Oleh karena itu penting sekali menjaga situasi kondusif di tengah pesta demokrasi," kata Sangadji.

Sangadji yang pernah menjabat Sekretaris Pokja Perdamaian Poso menambahkan, konflik di daerah itu sebenarnya sudah sempat mereda.  Eskalasinya kembali meningkat akibat masuknya orang dari luar Poso dan isu agama yang menyertainya.

Apa yang terjadi di Poso, masih kata Sangadji, menemukan relefansinya dengan apa yang disampaikan Kepala BNPT, Komjen. Pol. Boy Rafli Amar, bahwa terorisme merupakan fenomena yang terjadi di hilir, sementara persoalan di hulunya adalah radikalisme dan intoleransi.

"Pada titik inilah, kehadiran FKPT sebagai bagian dari BNPT, sangat menentukan. Peranannya sangat dubutuhkan. Mereka harus hadir di lini terdepan dari gerakan pencegahan," tambah Sangadji.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako ini juga mengamini apa yang disampaikan Kepala BNPT, bahwa penangkapan, penjara, dan bahkan peluru tidak dapat menyelesaikan terorisme. Di satu titik upaya penindakan secara represif memang diperlukan, namun pendekatan secara persuasif untuk  mencegahnya harus diutamakan.

"Kita gunakan analogi pemadam kebakaran. Pada saat rumah kita terbakar, kita tidak punya pilihan. Kecuali segera memadamkan api. Tapi setelahnya, kita harus berfikir dan bertindak untuk mengantisipasi agar kebakaran tidak lagi terjadi. Atau ditekan pada titik kejadian terendah," pungkas Sangadji.